Onik melangkahkan kakinya menuju halte bis. Kaki kecilnya menghentak-hentakkan tanah basah yang menempel di tapak sepatunya. Sepertinya ia kesal sekali harus berteduh di halte bis dengan puluhan orang yang memiliki aroma tubuh yang beraneka ragam. Peluh mereka seakan bersatu menimbulkan aroma yang kurang sedap dicium hidung. Sudah beberapa minngu ini hujan terus mengguyur bumi, sehingga ada beberapa daerah mulai terendam banjir.
Onic mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Rambut hitamnya yang tergerai indah itu tampakmeneteskan air. Tubuhnya pun tampak basah kuyup. Untung saja Onic memakai T-shirt dalam seragamnya, sehingga bagian tubuh yang tertutupi tidak terlihat meski basah kuyup.
“Hey, rambutnya tuh kena mata, nih!” hardik seorang cowok yang ikut berteduh di halte itu.
Onic yang terkejut langsung menghentikan aksinya yang mengibas-ngibaskan rambutnya dan diam tak bergeming.
“Tapi untung saja rambutnya wangi,” ujar cowok itu kembali sambil tersenyum. “Boleh kenalan, nggak? Namaku Dony. Kamu?” lanjut cowok itu mengulurkan tangan.
“Onic.” Sambut Onic singkat.
“Hei, kamu masih marah sama sikapku barusan?” tanya Dony.
Onic menggeleng tanpa suara dan tanpa menoleh sedikit pun.
“Pasti deh marah. Kalo nggak marah, sikapnya kok kayak gitu. Nggak bersahabat banget. Maaf dong!” pinta Dony lagi.
Kali ini Onik mengangguk tapi tetap tanpa menoleh ke arah Dony. Dony lalu berdiri tepat di hadapan Onic. Ia menghadapkan wajahnya kearah Onic. Onic menatap Dony sebentar lalu menghindar.
“Hei, kamu kok dari tadi diam saja. Apa kamu hanya bisanya menyebut nama Onic saja. Berarti kalau ada yang nanya seperti ini nih, “Hei, cewek cantik mau kemana?” lalu kamu jawab “Onic”. Terus kalau ada yang nanyain, “Sudah makan belum?” terus kamu jawabnya Onic lagi. Sebenernya Onic itu nama kamu bukan, sih? Heran dech!”
Mendengar kalimat itu Onic membalikkan tubuhnya menghadap Dony. Ia menatap dengan perasaan dongkol. Tetapi tanpa suara. Langsung saja Dony menggerak-gerakkan tangannya seolah- olah memberi isyarat. Onic mangkin dongkol melihatnya. Ia menghentikan kendaraan umum yang kebetulan melintas di hadapanya dan langsung menaikinya. Dony jadi bingung dengan sikap tak bersahabat dari Onic. Ia hanya menatap Onic hingga menghilang dari hadapannya.
***************
Seperti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. Dan di saat Onic membawa payung ke sekolah justru udaranya lagi cerah. Hari pun bersahabat sekali. Tapi bagi Onic cuaca nggak pernah bersahabat dengannya. Karena di saat Onic rela harus ribet membawa payunguntuk persiapan hujan, eh, cuaca justru cerah. Tapi di kala dia nggak bawa payung, si hujan malah mengguyur bumi, dan terimbaslah pada dirinya, yang bakal jadi kebasahan.
“Hei, Non! Kok manyun aja!” sapa Roji saat melihat Onic yang sedang menunggu angkot di dekat gerbang sekolah.
“Habisnya cuaca nggak pernah mau bersahabat denganku. kalo pas aku bawa payung, hujan nggak turun. Panas juga nggak. Jadi percuma kan aku bawa-bawa payung gini. Bikin ribet aja.” Gerutu Onic.
“Och, ia katanya tadi malem mau ceritain aku sesuatu, mangnya mau cerita apaan sih??” kata Roji.
“Och, ia ya......” Onic pun kemudian menceritakan peristiwa di halte tempo hari dengan cowok yang sepertinya mahasiswa itu. Roji seketika tertaw terbahak-bahak mendengar cerita Onic.
“Nggak lucu tau!” gerutu Onic.
“Lucu lagi nik.” Roji mulai menghentikan tawanya.
Onic makin manyun. Sesaat matanya melihat cowok yang di jumpainya di halte kemarin. Ia lalu menarik lengan Roji. “JI, itu tuh cowok yang aku ceritain tadi tuh,”
“yang lagi membawa ransel itu?” tanya Roji memastikan.
Onic mengangguk mantap.
“Hei,!!!” panggil Roji ke cowok itu.
Ia melipat lengan baju seragamnya seolah-olah mengambil ancang-ancang untuk berkelahi.
“Ji, apa-apaan sih lo? Jangan berkelahi dong hanya gara-gara kemarin.” Onic terlihat cemas.
Sementapa Dony, cowok yang dipanggil itu mulai datang mendekat.
“Kamu sahabatku kan, Nic, jadi nggak boleh ada yang mempermainkan kamu.” Ucap Roji serius.
“Iya, , Nic, jadi nggak boleh ada yang mempermainkan kamu.” Ucap Roji serius.
“Iya, Ji. Tapi udahlah, nggak apa-apa kok.” Onic makin cemas dan tinggal beberapa langkah lagi Dony sudah berada tepat di depan mereka.
Di luar dugaan Onic, yang terjadi justru kekompakan dua lelaki itu. Bukan perkelahian yang tadinya ia takutkan sebelumnya.
“JI, Roji. Sekolah mu ternyata luas juga. Kolo nggak kamu panggil, aku mungkin nggak bakalan bisa nemuin kamu.” Ucap Dony. Lalu pandangannya terhenti pada Onic. “Loh, sekolah di sini juga?” tanya Dony ke Onik.
Onic malah bukannya menjawab malah masih tetap terpaku bengong.
“Och, iya lupa. Kamu kan hanya bisa ngomong Onic doang!” ucap Dony santai.
Roji langsung tertawa ngakak. Kali ini tawanya lebih keras dari yang tadi. Onic makin manyun. Sementara Dony justru makin bingung.
“Ada apa sih, Ji?” tanya Dony penasaran.
Roji berhenti tertawa saat melihat perubahan wajah Onic yang makin manyun dan siap-siap untuk pergi. Roji langsung memegang pergelangan tangan Onic.
“Maaf, maaf......Nik. ingat cerita kamu jadi tertawa lagi pas Dony ngomong gitu. Maaf, iya tuan putri yang cantik...???” bujuk Roji’
Onic mengangguk.
“Kenalkan, Nik,, Dony, abang sepupuku. Dia dari Mataram dan kebetulan lagi berlibur kesini.” Ujar Roji.
“Och, gitu. Dasar kamu JI lagaknya mau berkelahi ternyata sudah kenal. Jahil!!!!” Onic mencubit gemas lengan Roji sampai Roji mengaduh.
“Ech ternyata bisa ngomong juga selain mengucap Onic,” ujar Dony.
“Ledek aja terus. Awas aja pembalasannya nanti. Emang iya.. kalian yang bersaudara ini sama aja jahilnya.” Ujar Onic mulai marah.“Och, ia kebetulan tadi mamaku masak kue loch, kalian mau mampir ke rumah aku nggak???” ajak Onic.
“Boleh-boleh.” jawab Dony.
“Tapi?? Nggak ngerepotinkan??” timpal Roji.
“Nggak kok,, malahan aku seneng, kalo kalian mau mampir ke rumah aku. Apa lagi kamu JI, udah lama kan kamu nggak main ke rumah.” Kata Onic.
Sesampainya mereka di rumah Onic. Onic menyuguhkan jus dan beberapa potong roti. Mereka duduk di teras rumah Onic yang sederhana tapi asri.
********
Malam setelah Roji berkunjung ke rumah Onic, Roji nggak tau perasaan apa yang dia rasakan,”kayaknya aku tu cinta sama Onic, tapi apa mungkin Onic juga suka sama aku????, tapi lok nggak gimana.??? Q takut cuman gara-gara aku ngungkapin perasaan aku ini ke Onic, malah dia nggak mau jadi sahabat aku lagi. Sudahlah pusing mikirin kayak ginian.” Kata Roji berbicara sendiri.
Tanpa Roji sadari, Dony ternyata dari tadi mendengar perkataannya.
“Udah lah Ji lok kamu suka ama Onic, mendingan lo ungkapin aja, dari pada ntar diambil orang.” Dony mengusulkan.
“tapi, aku takut kalo ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan.” Keluh Roji.
“Roji,,...Roji kalau belom dicoba mana kamu tau kalau sebenernya Onic thu suka apa nggak sama kamu.” Dony menegaskan kepada Roji. Sambil meninggalkan Roji.
*********
Keesokan harinya Roji bertekat untuk mengungkapkan perasaannya itu. Ketika Roji lagi sibuk nyari-nyari onic, kesana-kemari nggak ketemu. Waktu Roji melintasi sebuah taman Roji melihat Onic lagi duduk sendirian. Roji pun menghampiri Onic.
Roji menghela nafas sebentar, kemudian berkata.
“Nik, ternyata kamu disi, aku tu dari tadi capek tau nyariin kamu????” .
“Memangnya ada apa Ji, kamu nyariin aku???” jawab Onic.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Kata Roji.
“Emangnya kamu mau ngomong apa sih Ji???” tanya Onic penasaran.
“AKU CINTA KAMU, Nik. Jujur dari dulu aku tu dah suka ama kamu. Aku nggak mau kalau nantinya aku menyesal, karna kepengecutan aku untuk ngungkapin ini semua, dan aku juga nggak mau kalau nantinya kamu di ambil orang. Aku berjanji sama kamu kalau aku bakalan selalu ada di sampingmu, dan bakalan nemenin kamu sepanjang hidup, sampai waktu memisahkan kita. KAMU MAU NGGAK JADI PACAR AKU?????????????????????????????????????????” Tanya Roji kepada Onic.
“apakah benar yang di ucapkan Roji barusan????” tanya Onic dalam hati.
“Aku nggak salah dengerkan Ji?????” tanya Onic memastikan. “Ya jelas nggak lach Nic. Kamu mau kan??” Kata Roji meyakinkan Onic. “
“mmmmm.....gimana iya????” kata Onic sambil berfikir.
“plisssss Nik, kamu mau kan???? Aku tu sayang sama kamu.
Onic Cuma diam, memandang Roji.
“Kamu mau kan jadi pacar aku???” pinta Roji sekali kepada Onic.
“iya Aku mau kok jadi pacar kamu.” jawab Onic sambil tersenyum.JJJ
“sungguh” tanya Roji memastikan.
“iyaa.” Jawab Onic singkat.
“makasi Nic, aku janji nggak bakalan nyakitin kamu,” kata Roji sambil menggenggam tangan Onic, dan kemudian mencium kening Onic.
Tamat
0 komentar:
Posting Komentar